Erosi Empati di Era DigitalAnshar Aminullah (Akademisi)

$rows[judul] Keterangan Gambar : Anshar Aminullah (Akademisi)

Di era 80-an, yang paling gampang meningkatkan dopamin pilihannya tak banyak, karena audio ataukah video. Jika itu bukan sandiwara radio dari Tutur Tinular,  Pesanggrahan Keramat ataukah Satria Madangkara. Kalaupun ada tambahan emosional dadakan paling seputar  baterai radio yang tiba-tiba soak dan harus dijemur satu jam diatas seng rumah agar refresh isinya buat bertahan sementara. 

Sementara di segmen video jika bukan Serial TV Datuk Maringgih dengan Siti Nurbayanya ataukah Si Midun dengan Sengsara Membawa Nikmatnya. Hiburan terbatas dan pendengar dan penonton tetap rasional dan mampu mengotrol psikologis pada pelampiasan diluar kekesalan terhadap ulah nakal Datuk Maringgih, penderitaan si Midun serta kelicikan Mak Lampir. Emosional tambahannya palingan di seputar putar-putar antena di atas atap rumah agar tidak ada tampilan mirip kerumunan semut. 

Bedanya dengan hari ini, kalau dulu sumber stres terbesar adalah baterai radio yang ngambek saat Brama Kumbara bersama Mantili sedang bersiap mengeluarkan ajiannya saat melawan musuh, sekarang sumber masalahnya justru baterai ponsel yang terlalu awet sehingga kita yang kadang harus bertarung melawan kantuk agar hape tetap di tangan saat situasi berganti layar hape yang menonton kita sedang tertidur. 

Kalau dulu kita mengejar hiburan, sekarang hiburanlah yang mengejar kita. Sederhananya kurang lebih bahwa di generasi 80-an berjuang mencari sinyal hiburan, sedangkan generasi sekarang justru kesulitan berjuang untuk kabur dari serangan hiburan.

Dalam salah satu riset tentang Uses and Gratification, (Elihu Katz, Jay G. Blumler, Michael Gurevitch, 1974) yang dalam pengembangannya, riset tersebut lebih spesifik  menjelaskan bagaimana pengguna secara aktif memilih media seperti video pendek atau reels demi mendapatkan kepuasan atau pelarian instan agar terjadi lonjakan dopaminnya, yang jika berlebihan justru menumpulkan fungsi otak.

Hal ini sangat berpeluang menjadi penyumbang bagaimana terjadinya pembusukan otak atau dikenal lebih awal dengan istilah brain root (Henry David Thoreau’s, 1845) yang memengaruhi kesehatan kognitif dan mental. Ironisnya banyak yang tidak menyadari bahwa dia sudah terkena efek tersebut.

 Akibatnya hal yang sepele pun sangat gampang membuat mereka mengambil tindakan nekad dengan menciderai bahkan menghilangkan nyawa yang ditemani bersinggungan.

Krisis Nurani Digital

Dalam banyak fakta, gejala pembusukan kognitif akibat paparan informasi dan hiburan instan tersebut tidaklah sendirian hadir sebagai persoalan karena faktor individual semata. Hal tersebut berlangsung bersamaan dengan perubahan sosial yang lebih luas, di mana transformasi teknologi digital secara perlahan ikut memengaruhi cara masyarakat memaknai baik sisi norma, mengelola emosi, maupun upaya dalam mempertahankan nilai-nilai moral dan spiritual yang selama ini menjadi penyangga kehidupan sosial kemasyarakatan kita.

Perubahan sosial tentu adalah sesuatu yang sangat sulit dihindari. Khususnya pada perubahan dalam memegang teguh prinsip-prinsip nilai-nilai moral dan agama yang kita rasakan sendiri sangat-sangat terasa pergeserannya dalam 1 dasawarsa terakhir sejak era smartphone semakin maju teknologinya. 

Pergeseran nilai tersebut semakin terasa kompleks ketika bertemu dengan realitas kehidupan kita sehari-hari yang tidak selalu berjalan mudah. Di tengah perubahan budaya dan pola interaksi sosial, tekanan ekonomi yang terus meningkat acapkali menjadi faktor tambahan yang memperbesar kerentanan psikologis seseorang dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan

Faktor yang berkenaan dengan tekanan ekonomi, di mana kenaikan harga barang-barang karena harga BBM telah lebih dahulu naik, juga susahnya mendapat pekerjaan yang layak, serta daya beli masyarakat yang ikut melemah, faktor-faktor ini mampu memberikan beban mental yang kuat sehingga seseorang bisa sangat sensitif untuk menyelesaikan persoalan dengan cara-cara ekstrim. 

Saat tekanan psikologis, perubahan nilai sosial, serta paparan informasi yang serba cepat bertemu dalam satu ruang kehidupan masyarakat, maka yang muncul bukan saja meningkatnya potensi tindakan impulsif, akan tetapi akan tumbuh  kecemasan kolektif yang akan berdampak pada masyarakat yang merasa semakin tidak aman dalam menjalani kehidupan sehari-harinya. 

Tentu rasa was-was bahkan menjadi paranoid akan bisa mendera masyarakat kita disitiuasi maraknya kejadian-kejadian ekstrim ini. Tentu kembali kepada nilai-nilai agama dan kearifan lokal akan menjadi solusi preventif yang cukup bagus. Pemerintah bersama tokoh agama dan tokoh masyarakat mungkin harus lebih intens lagi duduk bersama untuk bisa secara aktif memberikan pencerahan bagi masyarakat kita.

Dan pada akhirnya, kemajuan pesat teknologi dan pembangunan ekonomi sekarang hanya akan memiliki makna jika dia berjalan beriringan dengan penguatan karakter, ketahanan mental, serta revitalisasi nilai-nilai sosial yang mampu menjaga sisi kemanusiaan kita agar tetap utuh di tengah perubahan zaman yang semakin cepat. 

Sebab kurang asik rasanya jika di tengah kecanggihan telepon genggam yang semakin pintar, justru kita yang kehilangan kemampuan untuk berpikir jernih, rasa bersabar, dan memanusiakan sesama, di mana ketiga hal tersebut terasa semakin kehilangan sinyalnya seperti Syamsul Bahri yang kehilangan Siti Nurbayanya, dan antena televisi kita yang patah tiang bambunya.

Dan jangan sampai nanti ponsel kita sudah mampu berbicara panjang kali lebar  dengan kecerdasan buatan, tetapi kita sendiri sudah kesulitan berbicara dengan tetangga, keluarga, bahkan dengan hati nurani kita sendiri!

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)