Anshar Aminullah
(Akademisi)
Revolusi digital sering kali dipahami oleh khalayak sebagai perubahan teknologi yang ditandai oleh hadirnya internet, kecerdasan buatan, otomatisasi, komputasi awan, algoritma, serta perangkat digital yang semakin terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari.
Tetapi jika pemikiran dari Steve P. Vallas dan Anne Kovalainen dalam Taking Stock of the Digital Revolution dipertemukan dengan konsep dari Martin Kenney dan John Zysman dalam Work and Value Creation in the Platform Economy, revolusi digital sesungguhnya tidak dapat dipahami hanya sebagai sebuah revolusi teknologi semata. Ia adalah transformasi yang jauh lebih mendasar terhadap arsitektur sosial ekonomi kapitalisme, khususnya terhadap cara kerja diorganisasikan dan cara nilai diciptakan.
Digitalisasi tidak hanya menghadirkan mesin baru, tetapi menciptakan infrastruktur baru yang memungkinkan kerja dipecah menjadi bagian-bagian kecil, dipindahkan melintasi ruang, dihubungkan melalui platform, dikendalikan melalui algoritma, dan dikonversi menjadi sumber nilai dalam berbagai bentuk. Sehingga perubahan utama yang sedang berlangsung bukan sekadar hilangnya pekerjaan lama atau munculnya pekerjaan baru, melainkan rekonfigurasi hubungan antara kerja, pekerja, teknologi, pasar, institusi, dan penciptaan nilai.
Dalam perspektif yang mengacu pada kedua pemikiran ini, maka dapat dirumuskan sebuah konsep baru yang disebut Platformized Value-Labor Reconfiguration (PVLR) atau Rekonfigurasi Nilai-Kerja Terplatformisasi. Konsep ini berangkat dari gagasan bahwa platform digital telah menjadi infrastruktur baru yang secara simultan mengubah dua hal yang selama ini sering dianalisis secara terpisah, yaitu organisasi kerja dan proses penciptaan nilai.
Vallas dan Kovalainen memperlihatkan bahwa revolusi digital memperluas bentuk-bentuk pekerjaan nonstandar, memperlemah batas tradisional antara pekerja dan perusahaan, serta melahirkan bentuk-bentuk kontrol baru melalui algoritma dan sistem digital.
Sementara itu, Kenney dan Zysman menunjukkan bahwa platform bukan hanya tempat berlangsungnya transaksi, tetapi ekosistem luas yang mencakup pekerja inti perusahaan platform, kontraktor, pekerja yang dimediasi platform, produsen konten, pengembang aplikasi, penjual, hingga pengguna yang menghasilkan konten tanpa kompensasi langsung. Ketika dua perspektif ini disatukan, terlihat bahwa platform bukan sekadar mediator antara permintaan dan penawaran, melainkan mesin reorganisasi yang mengubah sekaligus struktur kerja dan struktur nilai.
Dalam konsep PVLR, platformisasi dipahami sebagai proses ketika kerja dan nilai semakin dipisahkan dari bentuk-bentuk organisasi tradisional, lalu diintegrasikan kembali melalui infrastruktur digital. Pada era industrial, pabrik menjadi ruang utama tempat tenaga kerja dikonsentrasikan, diawasi, dan diarahkan untuk menghasilkan nilai. Dalam ekonomi platform, konsentrasi fisik tersebut mengalami pembongkaran. Pekerjaan dapat berlangsung dari rumah, kendaraan pribadi, kamar kosong, kantor virtual, gudang, studio pribadi, atau bahkan ruang digital yang tidak memiliki lokasi geografis yang jelas. Dengan demikian, platform melakukan semacam spatial decoupling, yaitu pemisahan antara lokasi kerja dan pusat pengendalian ekonomi.
Pekerja tidak harus hadir di tempat yang sama dengan perusahaan, tetapi aktivitas mereka tetap dapat diintegrasikan melalui sistem digital. Inilah yang membuat platformisasi berbeda dari sekadar digitalisasi pekerjaan: ia mengubah geografi produksi sekaligus struktur hubungan kerja.
Rekonfigurasi Nilai-Kerja Terplatformisasi juga menolak pandangan deterministik bahwa teknologi digital secara otomatis akan menghapus pekerjaan manusia dalam jumlah besar. Baik Vallas dan Kovalainen maupun Kenney dan Zysman menunjukkan bahwa narasi tentang "kiamat pekerjaan" sering kali terlalu sederhana. Teknologi memang dapat menghapus tugas tertentu, tetapi pada saat yang sama dapat mengubah pekerjaan yang sudah ada, menciptakan jenis pekerjaan baru, atau memindahkan pekerjaan ke bentuk organisasi yang berbeda.
Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan hanya "berapa banyak pekerjaan yang hilang?", tetapi "ke mana pekerjaan berpindah, bagaimana pekerjaan tersebut diorganisasikan kembali, siapa yang mengendalikan prosesnya, dan siapa yang memperoleh nilai terbesar dari perubahan tersebut?". Dalam perspektif Rekonfigurasi Nilai-Kerja Terplatformisasi, otomatisasi bukan akhir dari kerja, melainkan salah satu mekanisme dalam proses rekonfigurasi kerja dan nilai.
Konsep ini kemudian memperluas pemahaman tentang fragmentasi kerja. Kenney dan Zysman menunjukkan bahwa platform memecah kerja ke dalam beragam konfigurasi: pekerja langsung perusahaan platform, kontraktor, pekerja yang dimediasi platform, pekerja jasa langsung, pekerja jarak jauh, pencipta konten, hingga pengguna yang menghasilkan konten tanpa menerima pembayaran. Fragmentasi tersebut bukan berarti kerja kehilangan hubungan satu sama lain. Sebaliknya, berbagai bentuk kerja yang terpisah itu justru disatukan oleh platform melalui data, algoritma, reputasi digital, sistem pembayaran, dan mekanisme pencocokan.
Dengan demikian, PVLR atau Rekonfigurasi Nilai-Kerja Terplatformisasi ini memandang platformisasi sebagai fragmentasi yang sekaligus menghasilkan integrasi baru. Kerja menjadi semakin tersebar secara sosial dan geografis, tetapi semakin terhubung secara digital.
Di sinilah letak paradoks utama ekonomi platform. Platform menjanjikan fleksibilitas karena pekerja dapat menentukan kapan, di mana, dan seberapa lama mereka bekerja. Namun fleksibilitas tersebut berjalan berdampingan dengan bentuk kontrol yang semakin tersembunyi.
Pekerja mungkin tidak memiliki atasan yang berdiri secara fisik di belakang mereka, tetapi mereka berhadapan dengan algoritma yang menentukan visibilitas, reputasi, distribusi pekerjaan, harga, penilaian, dan akses terhadap pendapatan. Kontrol tidak menghilang; ia berpindah bentuk. Dalam konteks ini, platform menciptakan apa yang dapat disebut sebagai kontrol tanpa kehadiran, yakni kemampuan mengatur perilaku pekerja tanpa harus menghadirkan figur manajer secara langsung. Algoritma menggantikan sebagian fungsi manajemen tradisional dengan sistem yang bekerja melalui data dan peringkat.
Dengan demikian, Rekonfigurasi Nilai-Kerja Terplatformisasi memandang algoritma sebagai institusi ekonomi baru. Algoritma bukan sekadar perangkat teknis untuk mempercepat transaksi, tetapi menjadi mekanisme yang menentukan siapa bertemu dengan siapa, pekerjaan apa yang tersedia, bagaimana pekerja dinilai, dan nilai apa yang dianggap penting. Ketika algoritma mengatur pencocokan antara konsumen dan pekerja, ia sebenarnya ikut menentukan struktur pasar.
Ketika sistem reputasi menentukan siapa yang memperoleh pekerjaan lebih banyak, ia menciptakan hierarki baru. Ketika rekomendasi digital menentukan konten mana yang terlihat dan mana yang tenggelam, ia turut membentuk distribusi perhatian. Dengan kata lain, platform tidak hanya beroperasi di dalam pasar; platform ikut memproduksi kondisi yang memungkinkan pasar itu bekerja.
Karena itu, konsep Rekonfigurasi Nilai-Kerja Terplatformisasi menggeser perhatian dari platform sebagai pasar menuju platform sebagai arsitektur nilai. Pasar tradisional terutama mempertemukan penjual dan pembeli. Platform digital melakukan lebih dari itu: ia mengatur pertemuan, merekam transaksi, mengumpulkan data, mengelola reputasi, memprediksi perilaku, mengoptimalkan distribusi, dan mengubah aktivitas pengguna menjadi aset ekonomi. Nilai yang tercipta tidak lagi hanya berasal dari barang atau jasa yang dipertukarkan.
Nilai juga muncul dari data yang dihasilkan, perhatian yang dikumpulkan, reputasi yang dibangun, interaksi yang direkam, serta jaringan yang semakin luas. Oleh karena itu, Rekonfigurasi Nilai-Kerja Terplatformisasi memandang penciptaan nilai sebagai proses yang berlangsung di dalam keseluruhan ekosistem platform, bukan hanya di titik transaksi antara pekerja dan konsumen.
Fragmentasi Kerja, Integrasi Nilai
Konsep Platformized Value-Labor Reconfiguration selanjutnya menjelaskan bahwa fragmentasi kerja merupakan mekanisme penting dalam perluasan penciptaan nilai. Pekerjaan yang sebelumnya dilakukan oleh satu organisasi kini dapat dibagi menjadi banyak aktivitas kecil yang dikerjakan oleh aktor berbeda. Sebagian dilakukan oleh karyawan tetap, sebagian oleh kontraktor, sebagian oleh pekerja lepas, sebagian oleh pengguna, dan sebagian lagi oleh sistem otomatis.
Fragmentasi tersebut memungkinkan perusahaan platform mengurangi biaya koordinasi dan transaksi, karena teknologi digital memungkinkan pekerjaan kecil sekalipun untuk diidentifikasi, dipantau, dan dipertukarkan. Inilah yang membuat platform dapat mengintegrasikan aktivitas ekonomi yang sebelumnya terlalu kecil atau terlalu tersebar untuk dianggap layak secara komersial.
Dalam kerangka ini, konsep Platformized Value-Labor Reconfiguration memperkenalkan gagasan value integration through labor fragmentation. Artinya, semakin kerja dipecah menjadi unit-unit kecil, semakin mudah pula berbagai aktivitas tersebut dikumpulkan dan diintegrasikan menjadi sumber nilai yang lebih besar. Seorang pengemudi menyediakan waktu dan kendaraan; seorang pemilik rumah menyediakan ruang; seorang pengguna mengunggah foto; seorang konsumen memberikan ulasan; seorang kreator membuat video; seorang pekerja mikro menyelesaikan tugas sederhana; seorang pengembang menciptakan aplikasi.
Secara individual, masing-masing kontribusi mungkin tampak kecil. Namun ketika semuanya dikumpulkan melalui platform, kontribusi tersebut menghasilkan ekosistem ekonomi yang sangat besar. Kenney dan Zysman menekankan bahwa nilai platform bahkan dapat berasal dari aktivitas pengguna yang tidak dibayar secara langsung, seperti konten dan ulasan yang kemudian dapat dimonetisasi melalui data dan iklan.
Dalam perspektif ini, pengguna tidak lagi hanya menjadi konsumen. Mereka dapat sekaligus menjadi produsen, pemasok data, pencipta konten, evaluator, dan sumber reputasi. Batas antara produsen dan konsumen menjadi semakin kabur. Seorang pengguna YouTube, misalnya, dapat menjadi konsumen video sekaligus produsen konten. Pengguna media sosial dapat menjadi audiens sekaligus menghasilkan data yang digunakan untuk iklan.
Pembeli di marketplace dapat sekaligus menjadi evaluator produk melalui sistem ulasan. Bahkan aktivitas yang sebelumnya dianggap sebagai waktu luang dapat dikonversi menjadi data ekonomi. Dengan demikian, Platformized Value-Labor Reconfiguration (PVLR) melihat munculnya bentuk baru penciptaan nilai yang tidak selalu berbentuk kerja berbayar, tetapi tetap berkontribusi terhadap akumulasi kapital.
Hal tersebut membawa kita pada perubahan mendasar dalam pengertian "kerja". Dalam ekonomi industri, kerja secara umum diasosiasikan dengan aktivitas yang dilakukan untuk memperoleh upah. Dalam ekonomi platform, hubungan tersebut menjadi lebih kompleks. Seseorang dapat menciptakan nilai tanpa menerima upah langsung. Ia dapat membuat konten untuk membangun reputasi, memberikan ulasan untuk meningkatkan kualitas platform, mengunggah foto untuk memperkaya basis data, atau melakukan aktivitas digital yang secara tidak langsung membantu melatih sistem kecerdasan buatan.
Aktivitas tersebut mungkin dianggap sebagai hiburan, partisipasi sosial, atau ekspresi pribadi, tetapi pada tingkat ekosistem dapat menjadi input bagi proses akumulasi ekonomi. Karena itu, PVLR memperluas konsep kerja dari labor for wages menuju value-producing activity, yaitu setiap aktivitas yang secara langsung atau tidak langsung dapat dikonversi menjadi nilai ekonomi melalui infrastruktur platform.
Namun, rekonfigurasi tersebut tidak menghasilkan satu kelas pekerja yang homogen. Vallas dan Kovalainen mengingatkan bahwa pekerja platform memiliki latar belakang, tingkat ketergantungan, dan orientasi yang sangat beragam. Sebagian sepenuhnya bergantung pada pendapatan platform, sebagian menjadikannya sebagai pekerjaan sampingan, sementara sebagian lain menggunakannya sebagai strategi untuk memperoleh pengalaman, fleksibilitas, atau peluang ekonomi.
Karena itu, Platformized Value-Labor Reconfiguration tidak melihat platformisasi sebagai proses yang menghasilkan satu bentuk eksploitasi yang seragam. Sebaliknya, ia menghasilkan spektrum hubungan kerja yang berbeda-beda, mulai dari pekerja elite teknologi dengan kompensasi tinggi hingga pekerja kontrak yang sangat rentan.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa platformisasi menghasilkan polarisasi nilai dan risiko. Di satu sisi, pekerja inti perusahaan platform dapat memperoleh gaji tinggi, fasilitas besar, dan keuntungan dari kepemilikan saham. Di sisi lain, kontraktor, pekerja mikro, moderator konten, dan pekerja jasa dapat menghadapi upah rendah, minim perlindungan, dan ketidakpastian kerja. Dengan demikian, satu ekosistem platform dapat memproduksi kondisi kerja yang sangat kontras. Platform yang sama dapat menciptakan kemakmuran luar biasa bagi sebagian aktor sekaligus memindahkan risiko kepada aktor lain. PVLR menyebut kondisi ini sebagai asymmetric value-risk distribution, yaitu distribusi nilai dan risiko yang tidak seimbang dalam satu ekosistem digital.
Ketimpangan tersebut semakin jelas ketika kita melihat bahwa pemilik platform memiliki posisi struktural yang berbeda dari para pekerja dan pelaku ekosistemnya. Pemilik platform mengendalikan infrastruktur, data, algoritma, aturan akses, dan arsitektur transaksi. Pekerja dan pengguna dapat menghasilkan inovasi, konten, dan aktivitas ekonomi, tetapi platform memiliki kemampuan untuk mengintegrasikan, mengkurasi, bahkan menyerap inovasi tersebut ke dalam sistemnya sendiri. Dengan demikian, kekuasaan platform tidak hanya berasal dari kepemilikan modal, tetapi juga dari kemampuan mengendalikan infrastruktur yang menjadi tempat berlangsungnya penciptaan nilai.
Dalam sudut pandang konsep PVLR ini menawarkan pembacaan baru terhadap kekuasaan ekonomi. Kekuasaan tidak lagi hanya berada pada siapa yang memiliki pabrik, mesin, atau aset produksi fisik. Kekuasaan semakin berada pada siapa yang menguasai infrastruktur koordinasi.
Platform menjadi pusat kekuasaan karena ia menentukan aturan interaksi di antara banyak aktor. Jika pabrik pada era industrial mengonsentrasikan tenaga kerja dalam satu ruang fisik, platform mengonsentrasikan transaksi, data, reputasi, dan keputusan dalam satu ruang digital. Pabrik mengontrol proses produksi; platform mengontrol ekosistem tempat produksi, distribusi, konsumsi, dan evaluasi berlangsung secara bersamaan.
Perubahan tersebut menjelaskan mengapa platformisasi tidak dapat dipahami hanya sebagai fenomena ekonomi baru. Ia juga merupakan perubahan institusional. Vallas dan Kovalainen menunjukkan bahwa perkembangan platform memunculkan pertarungan mengenai hukum ketenagakerjaan, status pekerja, perlindungan sosial, transportasi, perumahan, dan kebijakan publik. Artinya, platform tidak tumbuh di ruang kosong. Ia selalu berhadapan dengan institusi yang sudah ada, sekaligus berusaha mengubah institusi tersebut agar sesuai dengan model bisnisnya.
Dengan demikian, PVLR menempatkan politik dan hukum sebagai bagian integral dari proses penciptaan nilai, bukan sebagai faktor eksternal yang datang setelah pasar terbentuk.
Algoritmisasi Kekuasaan Ekonomi
Dalam konsep Platformized Value-Labor Reconfiguration, algoritmisasi merupakan jantung dari rekonfigurasi hubungan kerja dan nilai. Algoritma memungkinkan platform mengubah aktivitas manusia yang kompleks menjadi data yang dapat diukur, dibandingkan, diperingkat, dan diprediksi. Pekerja dapat direduksi menjadi skor reputasi; konsumen menjadi profil perilaku; transaksi menjadi kumpulan data; dan aktivitas sosial menjadi jejak digital. Proses ini menghasilkan bentuk baru dari kuantifikasi kehidupan ekonomi. Apa yang sebelumnya sulit diukur kini dapat dikonversi menjadi indikator digital. Namun, apa yang dapat diukur kemudian cenderung menjadi apa yang dapat dikelola, dan apa yang dapat dikelola kemudian menjadi apa yang dapat dikendalikan.
Akibatnya, algoritma menciptakan bentuk baru dari asimetri kekuasaan. Pekerja mengetahui bahwa dirinya dinilai, tetapi tidak selalu mengetahui bagaimana sistem penilaian bekerja. Mereka mengetahui bahwa reputasi memengaruhi peluang memperoleh pekerjaan, tetapi sering kali tidak mengetahui formula yang menentukan reputasi tersebut. Mereka dapat melihat hasil keputusan algoritmik, tetapi tidak memiliki akses terhadap proses pengambilan keputusan di baliknya.
Dalam kondisi demikian, ketidakpastian tidak lagi hanya berasal dari pasar, tetapi juga dari sistem digital yang mengatur akses terhadap pasar. Platformized Value-Labor Reconfiguration menyebutnya sebagai algorithmic uncertainty, yaitu ketidakpastian yang lahir dari ketergantungan pekerja terhadap sistem yang tidak sepenuhnya dapat mereka pahami atau kendalikan.
Namun, pekerja bukan aktor pasif. Salah satu kontribusi penting Vallas dan Kovalainen adalah menunjukkan bahwa pekerja dapat mengembangkan strategi untuk menegosiasikan, mengakali, atau melawan sistem algoritmik. Mereka dapat melakukan gaming the system, membangun solidaritas, melakukan protes, atau menciptakan ruang otonomi di dalam batas-batas platform.
Dengan demikian, algoritma memang menciptakan kontrol baru, tetapi kontrol tersebut selalu berpotensi menghasilkan resistensi baru. Dalam perspektif PVLR juga, hubungan antara platform dan pekerja bukan hubungan satu arah dari kontrol menuju kepatuhan, melainkan arena dinamis antara kontrol, adaptasi, negosiasi, dan perlawanan.
Hal ini mengarah pada gagasan bahwa platformisasi menghasilkan dialektika antara otonomi dan kontrol. Pekerja dapat memilih kapan bekerja, tetapi tidak selalu dapat menentukan harga. Mereka dapat memilih untuk masuk atau keluar dari platform, tetapi jika pendapatan mereka bergantung pada platform, pilihan tersebut menjadi terbatas. Mereka mungkin tidak memiliki atasan langsung, tetapi mereka tetap diawasi melalui rating dan algoritma.
Mereka dapat bekerja dari mana saja, tetapi sistem digital dapat menentukan bagaimana pekerjaan mereka dinilai. Fleksibilitas dengan demikian bukan lawan dari kontrol; keduanya dapat hadir secara bersamaan.
Dalam perspektif Platformized Value-Labor Reconfiguration, kondisi tersebut menghasilkan apa yang dapat disebut sebagai autonomous dependence atau ketergantungan otonom. Pekerja tampak bebas karena mereka memiliki fleksibilitas, tetapi kebebasan tersebut berlangsung di dalam struktur yang ditentukan platform. Mereka bebas memilih untuk bekerja, tetapi platform menentukan medan pilihan yang tersedia. Mereka bebas mengatur waktu, tetapi sistem insentif dapat mendorong mereka untuk bekerja pada jam tertentu.
Mereka bebas menentukan strategi, tetapi reputasi digital dapat membatasi ruang gerak mereka. Dengan demikian, kebebasan dalam ekonomi platform bukanlah kebebasan absolut, melainkan kebebasan yang dibentuk oleh arsitektur digital.
Rekonfigurasi tersebut juga mengubah makna perusahaan. Dalam ekonomi tradisional, perusahaan memiliki batas yang relatif jelas antara pekerja internal dan aktor eksternal. Dalam ekonomi platform, batas tersebut menjadi kabur. Sebuah platform dapat memiliki sedikit pekerja inti tetapi mengoordinasikan jutaan aktivitas ekonomi di luar organisasi formalnya.
Dengan demikian, perusahaan tidak lagi harus memperbesar jumlah karyawan untuk memperbesar kapasitas ekonomi. Ia dapat memperbesar ekosistem. Pertumbuhan tidak lagi terutama berlangsung melalui ekspansi internal, tetapi melalui kemampuan menarik sebanyak mungkin aktor eksternal ke dalam jaringan platform.
Karena itu, PVLR memandang platform sebagai perusahaan tanpa batas yang memiliki pusat kekuasaan terpusat. Di satu sisi, aktivitas ekonomi tersebar ke berbagai aktor. Di sisi lain, keputusan strategis tetap terkonsentrasi pada pemilik infrastruktur. Fragmentasi produksi berjalan bersama sentralisasi kekuasaan. Ini merupakan salah satu paradoks terbesar ekonomi platform: semakin banyak aktor yang terlibat dalam penciptaan nilai, semakin besar pula potensi konsentrasi kekuasaan pada pihak yang menguasai infrastruktur digital yang menghubungkan mereka.
Konsep ini juga memperluas pemahaman tentang outsourcing. Dalam ekonomi lama, outsourcing memindahkan sebagian pekerjaan dari dalam perusahaan ke perusahaan lain. Dalam ekonomi platform, outsourcing dapat bergerak lebih jauh menjadi platformization. Pekerjaan tidak hanya dialihkan kepada perusahaan eksternal, tetapi dapat dipecah menjadi tugas-tugas yang ditawarkan kepada individu atau kelompok yang tersebar secara global. Dengan demikian, platform menurunkan biaya transaksi untuk mengorganisasikan tenaga kerja yang sebelumnya sulit dijangkau. Inilah yang membuat fragmentasi kerja semakin dalam dan semakin luas.
Dalam kondisi tersebut, nilai ekonomi dapat muncul dari aktivitas yang sebelumnya tidak dianggap sebagai pekerjaan. Kamar kosong menjadi aset ekonomi melalui platform akomodasi. Kendaraan pribadi menjadi sumber pendapatan melalui platform transportasi. Waktu luang menjadi tenaga kerja melalui pekerjaan mikro. Konten pribadi menjadi komoditas melalui monetisasi perhatian. Data pengguna menjadi sumber daya ekonomi melalui iklan dan analitik. Dengan demikian, PVLR melihat platformisasi sebagai proses ekspansi batas komodifikasi, yaitu proses ketika semakin banyak aspek kehidupan sosial dapat dikonversi menjadi sumber nilai melalui infrastruktur digital.
Akan tetapi, ekspansi komodifikasi tersebut tidak berlangsung tanpa batas. Ia selalu berhadapan dengan institusi, norma, hukum, dan politik. Status pekerja platform, perlindungan sosial, pajak, privasi, hak atas data, hingga regulasi persaingan menjadi arena pertarungan. Karena itu, masa depan ekonomi platform tidak ditentukan oleh teknologi semata. Ia ditentukan oleh interaksi antara teknologi dan institusi. Seperti ditunjukkan oleh Vallas dan Kovalainen, perubahan hubungan kerja merupakan hasil dari perjuangan politik dan hukum, bukan sekadar konsekuensi otomatis dari perkembangan pasar.
Hingga kemudian konsep Platformized Value-Labor Reconfiguration kembali mengajukan tesis bahwa platformisasi adalah proses sosial-politik, bukan hanya proses teknologis. Platform dapat menawarkan efisiensi, fleksibilitas, akses pasar, dan peluang baru, tetapi pada saat yang sama dapat menghasilkan ketidakamanan kerja, ketimpangan, diskriminasi algoritmik, dan konsentrasi kekuasaan. Efek akhirnya bergantung pada bagaimana negara, pekerja, perusahaan, konsumen, dan masyarakat sipil meresponsnya. Karena itu, platformisasi harus dipahami sebagai medan kontestasi yang terus bergerak.
Konsep Platformized Value-Labor Reconfiguration kemudian mengusulkan bahwa penciptaan nilai dalam ekonomi platform dapat dipahami melalui empat lapisan yang saling berhubungan: kerja langsung, kerja termedia, kerja konten, dan kerja pengguna. Kerja langsung mencakup karyawan dan kontraktor yang menjaga platform tetap berfungsi.
Kerja termedia mencakup aktivitas ekonomi yang dipertemukan melalui platform. Kerja konten mencakup produksi video, aplikasi, tulisan, dan berbagai bentuk materi digital. Sementara itu, kerja pengguna mencakup aktivitas yang tidak selalu dibayar tetapi menghasilkan data, reputasi, perhatian, dan informasi. Keempat lapisan ini membentuk satu ekosistem penciptaan nilai yang saling bergantung.
Dengan kerangka tersebut, nilai tidak lagi berada pada satu pusat produksi. Nilai bergerak melalui ekosistem. Seorang pengguna menciptakan data; data diolah algoritma; algoritma meningkatkan kualitas layanan; kualitas layanan menarik lebih banyak pengguna; jumlah pengguna memperbesar jaringan; jaringan meningkatkan nilai platform; dan peningkatan nilai platform menarik lebih banyak pekerja dan produsen. Proses tersebut menciptakan lingkaran umpan balik yang membuat platform semakin kuat.
Dalam perspektif PVLR, kekuatan ekonomi platform terletak pada kemampuannya mengubah aktivitas individual yang tersebar menjadi nilai kolektif yang terkonsentrasi.
Namun, konsentrasi tersebut juga melahirkan persoalan mengenai siapa yang berhak atas nilai. Jika pengguna menciptakan data, pekerja menghasilkan layanan, kreator menghasilkan konten, dan penjual menyediakan barang, sementara platform menyediakan infrastruktur dan mengambil bagian terbesar dari nilai ekonomi, maka muncul pertanyaan mengenai distribusi hasil.
Platformized Value-Labor Reconfiguration dengan demikian tidak hanya bertanya bagaimana nilai diciptakan, tetapi juga bagaimana nilai didistribusikan, dikendalikan, dan diklaim. Pertanyaan mengenai penciptaan nilai harus selalu diikuti oleh pertanyaan mengenai kepemilikan dan distribusi nilai.
Dalam kerangka ini, platform dapat dipahami sebagai mesin ekstraksi nilai dari ekosistem. Platform tidak harus menghasilkan seluruh nilai sendiri. Ia menciptakan kondisi agar pihak lain menghasilkan nilai, lalu memperoleh posisi strategis untuk mengatur aliran nilai tersebut. Keunggulan utama platform bukan selalu pada produksi barang atau jasa, tetapi pada kemampuan mengatur siapa yang dapat berpartisipasi, bagaimana transaksi berlangsung, bagaimana informasi mengalir, dan bagaimana aktivitas ekonomi dikonversi menjadi data. Dengan demikian, nilai strategis platform terletak pada kontrol terhadap jaringan dan infrastruktur, bukan hanya pada kepemilikan aset fisik.
Pada saat yang sama, PVLR tidak melihat pekerja dan pengguna hanya sebagai korban dari proses tersebut. Mereka tetap memiliki kapasitas agensi. Kreator dapat berpindah platform, pekerja dapat melakukan protes, pengguna dapat meninggalkan layanan, dan komunitas dapat membangun alternatif. Bahkan reputasi platform sendiri bergantung pada partisipasi aktor-aktor yang berada di dalam ekosistemnya. Karena itu, kekuasaan platform selalu bersifat relasional. Platform kuat karena banyak pihak bergantung padanya, tetapi ketergantungan tersebut juga menciptakan kemungkinan bagi aktor-aktor tersebut untuk membentuk ulang aturan permainan.
Implikasi teoritis terbesar dari PVLR adalah bahwa kita perlu meninggalkan oposisi sederhana antara "pekerjaan hilang" dan "pekerjaan tercipta". Pertanyaan yang lebih tepat adalah bagaimana teknologi mengubah arsitektur hubungan antara kerja dan nilai. Pekerjaan dapat tetap ada tetapi berubah bentuk. Pekerjaan dapat berpindah dari perusahaan ke platform. Pekerjaan dapat dipecah menjadi tugas. Pekerjaan dapat dialihkan kepada pengguna. Pekerjaan dapat menjadi tidak terlihat karena dilakukan sebagai aktivitas sukarela. Sementara itu, nilai dapat berpindah dari produk ke data, dari tenaga kerja ke jaringan, dari transaksi ke perhatian, dan dari kepemilikan aset ke penguasaan infrastruktur digital.
Dalam pengertian tersebut, konsep PVLR menawarkan sintesis antara Vallas dan Kovalainen dengan Kenney dan Zysman. Dari Vallas dan Kovalainen, konsep ini mengambil perhatian terhadap perubahan relasi kerja, ketidakamanan, kontrol algoritmik, ketimpangan institusional, dan kontestasi politik. Dari Kenney dan Zysman, konsep ini mengambil pemahaman bahwa platform mengorganisasikan beragam bentuk kerja dan penciptaan nilai dalam ekosistem yang luas. Sintesis keduanya menghasilkan argumen bahwa perubahan paling mendasar dalam ekonomi digital bukan sekadar munculnya "pekerjaan platform", melainkan rekonstruksi hubungan antara kerja dan nilai melalui infrastruktur platform.
Dengan demikian, Platformized Valu-Labor Reconfiguration dapat dirumuskan sebagai konsep yang menjelaskan bahwa platform digital melakukan tiga transformasi sekaligus: memecah kerja, mengintegrasikan aktivitas, dan memusatkan kontrol. Kerja dipecah menjadi unit-unit yang semakin kecil dan fleksibel. Aktivitas yang terfragmentasi kemudian diintegrasikan melalui data, algoritma, dan jaringan. Sementara itu, kontrol terhadap keseluruhan proses cenderung terkonsentrasi pada pemilik platform. Inilah struktur dasar yang menjelaskan mengapa ekonomi platform dapat terlihat sangat terdesentralisasi dari sisi aktivitas, tetapi sangat tersentralisasi dari sisi kekuasaan.
Pada akhirnya, rekonfigurasi nilai-kerja terplatformisasi (Platformized Value-Labor Reconfiguration) ini menunjukkan bahwa masa depan kapitalisme digital tidak dapat dipahami hanya dengan melihat apa yang dilakukan teknologi terhadap manusia. Kita harus melihat bagaimana teknologi, pasar, institusi, dan aktor sosial bersama-sama membentuk kembali makna kerja dan nilai.
Platform bukan sekadar alat yang digunakan manusia untuk bekerja; platform menjadi ruang tempat definisi tentang pekerjaan, nilai, reputasi, produktivitas, dan bahkan partisipasi sosial ditentukan. Ketika platform semakin menguasai berbagai bidang kehidupan, persoalan yang muncul bukan hanya apakah manusia akan kehilangan pekerjaan, tetapi siapa yang akan mengendalikan infrastruktur tempat manusia bekerja, bertransaksi, berinteraksi, dan menghasilkan nilai.
Karena itu, kontribusi utama konsep Platformized Value-Labor Reconfiguration terletak pada upaya menggeser fokus analisis dari "masa depan pekerjaan" menuju "masa depan hubungan antara kerja dan nilai". Pertanyaan tentang pekerjaan tidak dapat dipisahkan dari pertanyaan mengenai siapa yang menguasai platform, siapa yang mengendalikan data, siapa yang menetapkan algoritma, siapa yang menentukan reputasi, dan siapa yang memperoleh manfaat terbesar dari jaringan ekonomi digital. Dalam ekonomi platform, persoalan paling mendasar bukan sekadar apakah teknologi menggantikan manusia, melainkan bagaimana teknologi mengatur ulang posisi manusia dalam proses penciptaan nilai.
Jika industrialisasi dahulu memusatkan tenaga kerja di dalam pabrik, maka platformisasi menyebarkan tenaga kerja ke seluruh ekosistem sambil memusatkan koordinasi pada infrastruktur digital. Jika pabrik mengubah tenaga kerja menjadi bagian dari proses produksi, maka platform mengubah kerja, data, perhatian, reputasi, dan partisipasi menjadi komponen dari ekosistem nilai. Jika kapitalisme industrial beroperasi melalui konsentrasi aset fisik, kapitalisme platform semakin beroperasi melalui konsentrasi infrastruktur digital. Dengan demikian, platformisasi dapat dipandang sebagai bentuk baru reorganisasi kapitalisme: fragmentasi produksi di tingkat aktivitas, integrasi di tingkat jaringan, dan konsentrasi kekuasaan di tingkat infrastruktur.
Pada perspektif terakhir ini, konsep Platformized Value-Labor Reconfiguration memperoleh relevansi utamanya. Ia menjelaskan bahwa revolusi digital bukanlah sebatas kisah sederhana tentang teknologi yang menggantikan manusia, melainkan proses historis ketika kerja dan nilai dikonfigurasi ulang melalui platform. Kerja menjadi lebih tersebar, tetapi juga lebih terhubung. Pekerja menjadi lebih fleksibel, tetapi juga lebih tergantung.
Nilai dapat diciptakan oleh lebih banyak aktor, tetapi penguasaan atas nilai dapat semakin terkonsentrasi. Batas antara produsen dan konsumen menjadi semakin kabur, sementara batas antara kerja dan aktivitas sosial semakin sulit dibedakan. Dalam dunia seperti ini, platform bukan hanya tempat transaksi berlangsung. Namun ia adalah infrastruktur yang menentukan bagaimana kerja dipecah, bagaimana nilai itu dirakit, bagaimana kekuasaan didistribusikan, dan bagaimana kapitalisme digital telah memperoleh bentuk barunya.
Daftar Acuan :
Vallas, S. P., & Kovalainen, A. (Eds.). (2020). Work and labor in the digital age (Research in the Sociology of Work, Vol. 33). Emerald Publishing
Tulis Komentar