Oleh : Anshar Aminullah
Dalam Imagined Futures: Fictional Expectations and Capitalist Dynamics (Jens Beckert, 2016) dijelaskan bahwa sepanjang perjalanan sejarah, tingkat kekayaan ekonomi mengalami perubahan yang signifikan. Namun, peningkatan tersebut pada awalnya berlangsung sangat lambat. Baru sejak dimulainya Revolusi Industri, pertumbuhan ekonomi mengalami akselerasi yang mengarah pada tingkat produksi dan kemakmuran yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Pergeseran ini bermula di sejumlah negara di Eropa dan Amerika Utara, kemudian pada abad kedua puluh menyebar ke hampir seluruh wilayah dunia. Hingga saat ini, perkembangan ekonomi dan sosial global terus dibentuk oleh dinamika kapitalisme, baik dalam bentuk pertumbuhan maupun krisis ekonomi yang berulang.
Secara khusus, Jens Beckert menegaskan bahwa terdapat dua mekanisme kelembagaan yang menopang orientasi masa depan para aktor dalam kapitalisme, yakni persaingan dan kredit.
Perubahan lingkungan yang berlangsung tanpa henti, seiring dengan meluasnya persaingan pasar, memaksa para pelaku ekonomi untuk tetap waspada terhadap ancaman dari aktor lain yang menyimpang dari praktik-praktik mapan, sekaligus terus mencari peluang dan cara-cara baru untuk bertahan dan unggul.
Dalam konteks ini, momentum untuk terus bergerak maju menjadi suatu keharusan agar tidak tertinggal.
Persaingan mendorong perusahaan untuk meningkatkan efisiensi produksi dan memperkenalkan produk-produk baru ke pasar. Ketika satu perusahaan berhasil meningkatkan produktivitas atau menawarkan inovasi baru, para pesaingnya terdorong untuk melakukan penyesuaian melalui inovasi dan pengembangan yang lebih lanjut.
Tekanan untuk berhasil dalam persaingan tersebut juga dialihkan kepada karyawan, karena prospek dan status sosial mereka sangat bergantung pada keberhasilan di pasar tenaga kerja. Dengan demikian, persaingan memaksa individu untuk memperoleh dan mempertahankan keterampilan yang bernilai pasar melalui kemampuan mengantisipasi serta menyesuaikan diri terhadap tuntutan baru yang terus berkembang.
Sementara menurut Daniel Bell dalam buku yang sama, menurutnya, sosiolog, sejarawan, dan antropolog telah menunjukkan bahwa munculnya disposisi waktu baru dalam kapitalisme memicu konflik sosial yang mendalam. Namun demikian, disposisi temporal ini sekaligus menjadi prasyarat penting bagi kemajuan ekonomi kapitalis.
Perkembangan kapitalisme tidak dapat dipahami semata-mata melalui kemajuan teknologi, perubahan institusional, pembagian kerja, atau faktor-faktor makro lainnya. Perubahan orientasi kognitif melalui disposisi temporal baru merupakan komponen fundamental dalam asal-usul tatanan kapitalis, dan karena itu harus diperhitungkan dalam setiap penjelasan mengenai dinamika kapitalisme.
Selaras dengan argumentasi sebelumnya mengenai pentingnya persaingan dan kredit sebagai mekanisme yang mengarahkan aktor pada orientasi masa depan, dinamika pertumbuhan kapitalis hanya dapat dipahami apabila masa depan diposisikan sebagai ruang kemungkinan yang terbuka dan dapat diantisipasi.
Dalam konteks ini, krisis ekonomi tidak sekadar dipahami sebagai gangguan siklus, melainkan sebagai runtuhnya proyeksi masa depan yang sebelumnya diasumsikan dan dilembagakan. Keruntuhan tersebut justru membuka ruang bagi imajinasi baru, melalui mana kapitalisme menyesuaikan diri dan memulihkan momentumnya.
Orientasi temporal dalam tatanan kapitalis memiliki prasyarat sosial, politik, dan kelembagaan. Ia membutuhkan struktur sosial yang relatif terbuka terhadap mobilitas, serta institusi-institusi yang memungkinkan inovasi dan perluasan persaingan pasar. Ketika masa depan diakui sebagai sesuatu yang terbuka dan belum sepenuhnya ditentukan, maka pertanyaan tentang bagaimana para aktor, baik perusahaan maupun individu menghadapi dan mengelola ketidakpastian menjadi sangat sentral.
Dalam kerangka ini, mekanisme persaingan dan kredit berfungsi sebagai perangkat institusional yang menstrukturkan harapan, mengarahkan tindakan, dan menjaga momentum orientasi ke depan dalam kapitalisme.
Dalam tiga puluh tahun terakhir, slogannya "sejarah matters" telah menjadi seruan di seluruh ilmu-ilmu sosial. Studi dalam ilmu politik dan sosiologi telah bersikeras untuk menjelaskan keadaan dunia saat ini dengan mengacu pada peristiwa masa lalu, dan konsep-konsep seperti ketergantungan jalur, pengembalian yang meningkat, lintasan, dan institusi telah digunakan untuk menggambarkan pengaruh kausal dari masa lalu pada saat ini.
William Sewell (1996) meringkas pendekatan ini secara ringkas bahwa apa yang terjadi pada titik waktu yang lebih awal akan mempengaruhi kemungkinan hasil dari rangkaian peristiwa yang terjadi pada titik waktu yang berbeda. Bahwa amat penting sejarah sebagian besar diterima begitu saja dalam sosiologi dan ilmu politik.
Di sini tidak diragukan lagi bahwa memahami lintasan sejarah merupakan prasyarat penting untuk menjelaskan fenomena sosial masa kini. Namun demikian, menurut Augustine Of Hippo, bahwa peristiwa dalam dunia sosial tidak dapat direduksi semata-mata pada determinasi masa lalu.
Keputusan para aktor tidak hanya ditentukan oleh struktur yang telah ada dan pengalaman historis yang mereka miliki, melainkan juga dalam kadar yang sama oleh persepsi mereka tentang masa depan.
Dalam kerangka orientasi temporal kapitalisme yang menempatkan masa depan sebagai ruang kemungkinan yang terbuka, setiap tindakan selalu dikaitkan dengan proyeksi atas konsekuensi yang belum terjadi.
Ketika mengambil keputusan, aktor mengasosiasikan tindakan yang sedang mereka pertimbangkan dengan hasil-hasil tertentu di masa depan, serta membandingkannya dengan alternatif tindakan lain yang menjanjikan konsekuensi berbeda. Dengan demikian, tindakan sosial dibentuk oleh evaluasi imajinatif atas kemungkinan-kemungkinan yang akan datang.
Persepsi atas hasil yang diantisipasi inilah yang disebut sebagai harapan. Harapan berfungsi sebagai jembatan antara tindakan masa kini dan masa depan yang dibayangkan, sekaligus menjadi landasan kognitif bagi dinamika persaingan, inovasi, dan penggunaan kredit dalam tatanan kapitalis.
Dengan demikian, dinamika kapitalisme tidak hanya bergerak di atas fondasi sejarah, tetapi juga ditopang oleh imajinasi kolektif tentang masa depan. Masa lalu menyediakan struktur dan batasan, namun harapanlah yang mengaktifkan tindakan. Di dalam ruang ketidakpastian, aktor ekonomi baik perusahaan, pekerja, maupun institusi keuangan bertindak berdasarkan ekspektasi yang mereka bangun dan negosiasikan secara sosial.
Di sinilah kapitalisme memperoleh energinya: bukan semata-mata dari akumulasi modal atau kemajuan teknologi, melainkan dari kemampuan para aktor untuk terus membayangkan kemungkinan baru dan mengorganisasikan tindakan menuju kemungkinan tersebut.
Pada akhirnya, memahami kapitalisme berarti memahami bagaimana harapan dilembagakan, dipertahankan, dan sesekali runtuh dalam siklus pertumbuhan dan krisis. Ketika ekspektasi kolektif melemah, krisis muncul sebagai tanda terganggunya orientasi masa depan; sebaliknya, ketika imajinasi baru terbentuk, momentum ekonomi kembali bergerak.
Kapitalisme, dengan demikian, adalah tatanan yang senantiasa hidup di antara memori dan antisipasi di antara jejak sejarah dan cakrawala masa depan yang terus dibayangkan.
Sumber Referensi :
Beckert, J. (2016). Imagined futures: Fictional expectations and capitalist dynamics. Harvard University Press
Tulis Komentar