Fenomena Baru: Warga Ramai-Ramai Kena MentalAkibat Algoritma Medsos, Pakar Sarankan Diet Jempol

$rows[judul]

Makassar – Pernahkah Anda membuka media sosial pada jam 9 malam dengan niat "cuma mau lihat sebentar," tetapi tiba-tiba tersadar saat jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi? Jika iya, Anda tidak sendirian.

Belakangan ini, jagat maya sedang dihebohkan oleh fenomena baru yang disebut para ahli sebagai 'Doomscrolling' atau 'Sindrom Scrolling Tanpa Akhir'. Fenomena ini dilaporkan membuat jutaan netizen di tanah air mengalami kondisi 'kena mental' masal akibat hanyut dalam arus algoritma video pendek.

Bukan karena patah hati atau tekanan ekonomi, rasa cemas dan insecure ini muncul murni karena jempol yang tidak bisa berhenti menggeser layar ponsel.

Jempol Netizen 'Berlari' 5 Kilometer Per Hari

Berdasarkan data dari survei perilaku digital terbaru, rata-rata gerakan jempol netizen Indonesia saat melakukan scrolling di media sosial bisa mencapai jarak hingga 5 kilometer per hari. Jarak yang luar biasa ini hampir setara dengan lari maraton mini.

"Masalahnya, aktivitas 'lari maraton' pakai jempol ini sama sekali tidak membakar kalori perut, melainkan membakar kesehatan mental," gurau seorang peneliti perilaku digital dalam sebuah diskusi daring.

Paparan konten visual yang begitu cepat dari algoritma For You Page (FYP) membuat otak terus-menerus menuntut stimulasi instan. Akibatnya, waktu tidur berkurang, produktivitas menurun, dan muncul perasaan cemas yang tidak beralasan.

"Umur 20 Sudah Beli Rumah, Saya Baru Bisa Beli Seblak"

Dampak nyata dari fenomena ini dirasakan oleh Riyan (24), seorang pekerja kreatif di Makassar. Ia mengaku sering mengalami kecemasan akut setelah terlalu lama bermain media sosial sebelum tidur.

"Niatnya mau refreshing setelah kerja. Tapi pas buka medsos, isinya konten orang umur 20 tahun yang sudah punya rumah mewah, mobil sport, dan bisnis miliaran. Begitu sadar, jam sudah menunjukkan pukul 4 subuh, dada rasanya sesak, dan saya langsung kena mental. Padahal di umur yang sama, saya baru bisa konsisten beli seblak kuah tiap malam," curhat Fajar sembari tertawa getir.

Kondisi psikologis seperti inilah yang disebut sebagai FOMO (Fear of Missing Out) dan social comparison (membandingkan diri dengan orang lain), yang diperparah oleh algoritma media sosial yang terus menyajikan kehidupan "sempurna" orang lain di layar HP kita.


Solusi Ekstrem: Saatnya Melakukan 'Diet Jempol'

Menanggapi fenomena yang kian mengkhawatirkan ini, para pakar kesehatan digital mulai menyarankan masyarakat urban untuk segera melakukan gerakan 'Diet Jempol'.

Bagaimana caranya? Berikut adalah beberapa tips diet jempol yang bisa Anda coba malam ini:

  1. Aturan 20 Menit: Pasang alarm pembatas (timer) di aplikasi media sosial Anda. Jika waktu habis, paksa aplikasi untuk mengunci diri.

  2. Karantina Gadget: Jauhkan ponsel minimal 2 meter dari tempat tidur setelah jam 10 malam.

  3. Kembali ke Zaman Purba: Jika kondisi sudah parah, ganti ponsel pintar Anda dengan ponsel jadul yang layarnya masih berwarna kuning dan hanya bisa digunakan untuk telepon atau SMS.

    Masa depan dan kebahagiaan Anda ada di tangan Anda sendiri, bukan diatur oleh algoritma media sosial. Jadi, apakah jempol Anda hari ini sudah siap untuk diet?

    BACA JUGA: https://hairanews.com/kenapa-video-pendek-bikin-otak-kita-malas-berpikir

    (Sstt... Jangan lupa bagikan artikel ini ke grup WhatsApp keluarga atau teman nongkrong kamu yang jempolnya sudah jalan 5 kilometer hari ini!)

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)