MAROS, SULAWESI SELATAN — Transformasi teknologi mulai menyentuh sektor budidaya perikanan masyarakat di Dusun Baku, Desa Lekopancing, Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), tim pelaksana menghadirkan inovasi budidaya lobster air tawar berbasis Internet of Things (IoT) yang terintegrasi dengan sistem akuaponik sebagai upaya meningkatkan efisiensi produksi, menjaga kualitas lingkungan, serta memperkuat kesejahteraan masyarakat pembudidaya.
Program ini mengusung judul “Transformasi Ekosistem Budidaya Lobster Air Tawar Berbasis IoT: Integrasi Ekonomi Biru, Hijau, dan Kreatif untuk Kesehatan, Kesejahteraan, dan Ketahanan Pangan Nasional.” Kegiatan tersebut diketuai oleh Herwandi, S.Pd., M.Pd., yang juga menjabat sebagai Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ITEKES Permata Ilmu Maros.
Program PKM ini dilaksanakan selama tiga bulan, mulai Juni hingga Agustus 2026, melalui serangkaian kegiatan yang meliputi sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan, serta evaluasi bersama mitra.
Program PKM ini dilaksanakan bersama mitra sasaran, yaitu Unit Pembenihan Rakyat (UPR) Kurnia Baku, sebuah kelompok pembudidaya yang berlokasi di Dusun Baku, Desa Lekopancing. Sebelum program dilaksanakan, kelompok mitra menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam pengelolaan kualitas air, yang selama ini masih dilakukan secara manual dan belum berlangsung secara kontinu. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko stres dan kematian organisme budidaya, pertumbuan yang lambat, serta menyulitkan pengambilan keputusan secara cepat berbasis data.
Menjawab persoalan tersebut, tim PKM menghadirkan dua program unggulan yang menjadi bagian dari transformasi ekosistem budidaya lobster air tawar, yakni pembuatan sistem akuaponik dan penerapan sistem monitoring kualitas air berbasis Internet of Things (IoT).
Akuaponik: Budidaya yang Lebih Produktif dan Ramah Lingkungan
Program pertama adalah pembangunan sistem akuaponik terintegrasi dengan kolam budidaya lobster air tawar. Sistem ini dirancang untuk menciptakan hubungan yang saling menguntungkan antara kegiatan budidaya dan pertumbuhan tanaman.
Air dari sistem budidaya yang mengandung sisa nutrisi dapat dimanfaatkan dalam sistem akuaponik untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Sebaliknya, air yang mengalir melalui media atau pipa tanaman mengalami proses penyaringan dan pemanfaatan nutrisi oleh tanaman, sehingga kualitas air yang kembali ke sistem budidaya menjadi lebih baik. Dengan demikian, penerapan akuaponik tidak hanya membantu menjaga kualitas lingkungan budidaya, tetapi juga menciptakan sistem yang lebih efisien dan berkelanjutan serta membuka peluang hadirnya produk tambahan berupa tanaman atau sayuran yang memiliki nilai ekonomi.
Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep ekonomi hijau, yaitu mendorong pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien, mengurangi potensi limbah, dan menciptakan sistem produksi yang lebih berkelanjutan. Dalam rancangan program, akuaponik diposisikan sebagai bagian dari ekosistem budidaya yang terintegrasi, bukan sekadar teknologi tambahan.
Pantau pH, DO, Salinitas, dan Suhu Melalui Handphone Secara Real-Time
Program unggulan kedua adalah penerapan Internet of Things (IoT) sebagai sistem monitoring dan otomatisasi pengukuran kualitas air budidaya.
Melalui perangkat sensor yang dipasang pada sistem budidaya, mitra dapat melakukan pemantauan terhadap sejumlah parameter penting kualitas air, meliputi pH, Dissolved Oxygen (DO) atau oksigen terlarut, salinitas, dan suhu air.
Data hasil pengukuran dikirimkan melalui sistem digital sehingga dapat dipantau melalui Handphone secara real-time. Dengan teknologi tersebut, pembudidaya tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pemeriksaan manual untuk mengetahui kondisi kolam.
“Transformasi digital dalam sektor budidaya harus dapat diterapkan secara sederhana, mudah diakses, dan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat. Karena itu, teknologi IoT yang kami terapkan dirancang agar data kualitas air dapat dipantau melalui handphone secara real-time, sehingga pembudidaya dapat mengetahui kondisi kolam dan mengambil langkah lebih cepat ketika terjadi perubahan,” ujar Herwandi, S.Pd., M.Pd.
Menurut Herwandi, teknologi bukan hanya ditempatkan sebagai perangkat modern, tetapi sebagai instrumen untuk membangun pola budidaya yang lebih presisi dan berbasis data.
“Ke depan, sektor perikanan dan budidaya masyarakat harus mulai bergerak dari pola konvensional menuju smart aquaculture. Data kualitas air dapat menjadi dasar dalam pengambilan keputusan, mulai dari pengelolaan lingkungan budidaya hingga peningkatan efisiensi produksi,” tambahnya.
Dalam program PKM, penerapan teknologi IoT memang dirancang untuk mendukung pemantauan kualitas air secara berkelanjutan, menyediakan akses data melalui perangkat digital, serta menjadi dasar pengembangan sistem peringatan dini terhadap perubahan kondisi lingkungan. Pendekatan tersebut juga diintegrasikan dengan sistem budidaya, manajemen usaha, dan penguatan kapasitas mitra.
Dari Budidaya Konvensional Menuju Smart Aquaculture
Penerapan teknologi IoT dan akuaponik menjadi langkah awal dalam membangun model smart aquaculture di tingkat masyarakat. Program ini tidak hanya berfokus pada penyediaan teknologi, tetapi juga mendorong proses transfer pengetahuan kepada mitra melalui sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan, dan evaluasi.
Mitra dilibatkan secara aktif dalam proses pelaksanaan, termasuk dalam pengoperasian sistem, pengelolaan kolam, serta pemanfaatan teknologi yang telah diterapkan. Pendekatan partisipatif tersebut penting agar teknologi yang diberikan tidak berhenti sebagai bantuan fisik, tetapi dapat dikelola dan dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat.
Program ini juga diarahkan untuk memperkuat keterkaitan antara ekonomi biru, ekonomi hijau, dan ekonomi kreatif. Ekonomi biru diwujudkan melalui pengembangan budidaya perairan yang produktif dan berkelanjutan. Ekonomi hijau diterapkan melalui integrasi akuaponik dan pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien. Sementara itu, ekonomi kreatif didorong melalui penguatan nilai tambah, branding, serta pengembangan strategi pemasaran produk secara digital.

Mitra Rasakan Manfaat: Teknologi Membawa Inovasi Baru dalam Budidaya
Ketua UPR Kurnia Baku, H. Hamzah, menyambut positif pelaksanaan program PKM tersebut. Menurutnya, penerapan teknologi IoT dan akuaponik memberikan pengalaman baru bagi para anggota kelompok dalam mengelola kegiatan budidaya secara lebih modern.
“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas hadirnya program PKM ini. Selama ini kami lebih banyak melakukan pemantauan kondisi kolam secara manual berdasarkan pengalaman. Dengan adanya sistem IoT, kami mulai belajar memantau kualitas air melalui handphone secara real-time. Ini sangat membantu kami untuk memahami kondisi budidaya dengan lebih cepat dan berbasis data.”
Ia juga menilai sistem akuaponik membuka wawasan baru mengenai pentingnya pengelolaan budidaya yang tidak hanya mengejar hasil produksi, tetapi juga memperhatikan efisiensi sumber daya dan lingkungan.
“Akuaponik memberikan pemahaman kepada kami bahwa kegiatan budidaya dapat dikembangkan menjadi sistem yang saling terintegrasi. Harapan kami, teknologi dan pengetahuan yang diberikan oleh tim PKM ini dapat terus kami manfaatkan dan dikembangkan, sehingga ke depan UPR Kurnia Baku dapat menjadi contoh pengembangan budidaya lobster air tawar yang lebih modern, produktif, dan berkelanjutan,” ujar H. Hamzah.
Mendorong Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Masyarakat
Secara lebih luas, program ini diharapkan dapat memberikan dampak terhadap peningkatan kapasitas masyarakat pembudidaya, penguatan usaha produktif, serta pengembangan sumber pangan berbasis perairan tawar.
Budidaya lobster air tawar memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai salah satu sumber produk perikanan bernilai ekonomi. Dengan dukungan teknologi yang tepat guna dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia, masyarakat diharapkan dapat membangun sistem usaha yang lebih adaptif terhadap perubahan lingkungan dan perkembangan teknologi.
Program PKM ini juga memiliki orientasi keberlanjutan. Sistem IoT dan akuaponik yang telah diterapkan diharapkan dapat terus digunakan dan dikembangkan oleh mitra secara mandiri serta berpotensi direplikasi pada kelompok pembudidaya lainnya.
Dengan demikian, inovasi yang diterapkan tidak hanya menghasilkan perubahan pada satu lokasi budidaya, tetapi berpotensi menjadi model pengembangan ekosistem budidaya perikanan cerdas berbasis masyarakat.
Pelaksanaan program ini secara substansial diarahkan untuk meningkatkan efisiensi dan stabilitas produksi, memperkuat manajemen berbasis data, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, serta mengembangkan usaha budidaya yang berkelanjutan dari aspek produksi hingga pemasaran. Program juga dirancang sebagai model yang dapat dikembangkan lebih lanjut dan direplikasi pada kelompok pembudidaya lain.
UCAPAN TERIMA KASIH
TIM PKM ITEKES Permata Ilmu Maros Mengucapkan Terima Kasih kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia sebagai pemberi dana dalam pelaksanaan program ini.
Dukungan pendanaan tersebut menjadi bagian penting dalam terlaksananya Program Pengabdian kepada Masyarakat berjudul: “Transformasi Ekosistem Budidaya Lobster Air Tawar Berbasis IoT: Integrasi Ekonomi Biru, Hijau, dan Kreatif untuk Kesehatan, Kesejahteraan, dan Ketahanan Pangan Nasional.”
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat, program ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam mempercepat transformasi teknologi di tingkat akar rumput serta membangun ekosistem budidaya yang lebih cerdas, produktif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
Turut Hadir Tim Dosen dan Mahasiswa ITEKES Permata Ilmu Maros, Risqah Amaliah Kasman, S.Pd.,M.Pd (Wakil Rektor 1), Aminuddin, S.Pi.,M.Si (Dekan Fakultas Ilmu Perikanan dan Bisnis), Kartini J, S.Pi.,M.Si (Kepala Lembaga Penjaminan Mutu), Muhammad Fadli, S.Pd.,M.Pd (Sekretaris Lembaga Penjaminan Mutu), Herwandi, S.Pd.,M.Pd (Ketua LPPM), Nudia Tuljannah, S.Si.,M.Si (Sekretaris LPPM), Riskayanti, S.Pi.,M.Si (Ketua Prodi PSDP), Haerawati, S.Pi.,M.Si (Ketua Prodi Sosek Perikanan), Muh. Fuad, S.Pd.,M.Pd (Admin PT), Tim Dosen (A. Agung Hariawan P, S.E.,M.M; Siti Yasya Ey Fathanah, S.Tr.Pt.,M.Si; A. Rahmatia, S.A.B.,M.A.P; Afifah Nur Fadhilah, S.Pi.,M.Si; Dewi Hartini, S.Pd.,M.Pd), Tim Mahasiswa (Muh. Ilham, Ripki Adiaksa, Sandi Amaliah R, Yuliana, Syamsul)
Tulis Komentar