PALOPO — Universitas Kurnia Jaya Persada (UKJP) menggelar Seminar Nasional bertajuk "Kesehatan Reproduksi di Era Modern: Tantangan, Risiko & Edukasi". Forum akademik yang berlangsung dinamis ini menghadirkan pakar seksologi dan kesehatan reproduksi nasional, dr. Boyke Dian Nugraha, Sp.OG., MARS, sebagai pembicara utama, guna membedah kompleksitas problematika kesehatan reproduksi di tengah eksalasi disrupsi digital.
Agenda ilmiah yang dipusatkan di aula utama kampus UKJP ini dihadiri oleh ratusan sivitas akademika, meliputi jajaran dosen serta mahasiswa dari rumpun ilmu kesehatan. Kegiatan ini dirancang sebagai bentuk respons strategis institusi terhadap maraknya distorsi informasi kesehatan reproduksi di ruang publik.
Rektor Universitas Kurnia Jaya Persada, Prof. drg. Mansjur Nasir, Ph.D., Sp.Ort, dalam pidato pembukaannya menekankan pentingnya rekonstruksi pola edukasi kesehatan di lingkungan perguruan tinggi.
"Tantangan era modern tidak hanya terletak pada manifestasi klinis penyakit, melainkan pada derasnya penetrasi informasi keliru yang diakses oleh generasi muda. Institusi pendidikan tinggi bertanggung jawab melahirkan tenaga kesehatan yang memiliki ketajaman analisis serta kemampuan intervensi edukatif yang berbasis pada bukti ilmiah (evidence-based practice)," tegas Prof. Mansjur.
Hadir memberikan dukungan struktural, Ketua Yayasan UKJP, dr. Indah Mustikasari, S.Ked., M.ARS., FISQua. Dalam orientasinya, beliau menyampaikan bahwa penguatan literasi kesehatan reproduksi mutlak diperlukan untuk membangun ketahanan kesehatan nasional, yang dimulai dari penguatan kompetensi para calon praktisi medis di bangku kuliah.
Untuk memberikan analisis yang komprehensif, seminar ini mengolaborasikan perspektif multi-aspek melalui diskusi panel bersama para pakar terkemuka.
Dokter Nasaruddin Nawir, Sp.OG., Subsp.Obginsos., MARS, selaku narasumber kedua, membedah tema ini dari sudut pandang Obstetri dan Ginekologi Sosial. Dalam paparannya, ia menguraikan korelasi antara pergeseran sosiokultural di era modern dengan dinamika risiko patologis pada organ reproduksi. Ia menggarisbawahi pentingnya pemetaan determinan sosial kesehatan dalam merumuskan langkah preventif di hulu.
Sementara itu, tinjauan implementatif dari aspek kebidanan dan keperawatan diulas secara mendalam oleh Nurlismi Subbe, S.Tr.Keb., M.Keb dan Ns. Sumiati, S.Kep., M.Kes. Kedua akademisi ini menyoroti urgensi transformasi metodologi konseling. Mereka menekankan bahwa bidan dan perawat kontemporer harus menguasai instrumen komunikasi terapeutik yang adaptif terhadap karakteristik Generasi Z, sehingga pesan edukasi dapat mengintervensi perilaku berisiko secara efektif.
Pada sesi utama, dr. Boyke Dian Nugraha mengelaborasi fenomena global terkait penurunan kualitas kesehatan reproduksi akibat paparan konten digital yang tidak tersaring serta gaya hidup urban. Ia mengingatkan bahwa tanpa adanya regulasi diri yang kuat dan edukasi formal yang sistematis, ancaman penyakit menular seksual (PMS) dan gangguan psikologis terkait seksualitas akan terus meningkat.
Sesi pemaparan materi kemudian dilanjutkan dengan diskusi interaktif dan dialektika ilmiah antara peserta—baik dosen maupun mahasiswa—dengan para panelis. Seminar nasional ini resmi ditutup dengan penyerahan plakat penghargaan kepada para narasumber disusul sesi dokumentasi bersama jajaran rektorat dan yayasan UKJP.
Tulis Komentar