Memulihkan Arsitektur Humanisme dalam Pendidikan IslamRefleksi Hari Pendidikan Nasional di Tengah Arus Tekno-Positivisme

$rows[judul]

Oleh Herawati Syamsul,S.Pd.I.,SH.,M.Pd

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) kerap kali terjebak dalam romantisme historis yang steril. Kita fasih mengutip diktum Ki Hadjar Dewantara tentang ing ngarsa sung tulada hingga tut wuri handayani, namun di saat yang sama, kita sering gagap menerjemahkannya ke dalam lanskap pendidikan modern yang kian mekanistik. Sebagai akademisi yang bergerak di rahim Pendidikan Islam, saya melihat ada urgensi epistemologis untuk melakukan dekonstruksi terhadap arah pedagogi kita hari ini. Pendidikan kita sedang mengalami gejala "dislokasi jiwa", di mana institusi akademik lebih sibuk mengejar metrik, standardisasi global, dan pemenuhan pasar ketimbang memanusiakan manusia.

Dalam epistemologi Islam, pendidikan bukanlah sekadar transfer pengetahuan (naql al-ma'lumât) demi mencetak sekrup-sekrup industri. Ia adalah proses ta'dib—sebuah upaya sistematis untuk menanamkan adab, moralitas, dan pengenalan akan eksistensi diri di hadapan Sang Pencipta. Konsep ini menempatkan ilmu pengetahuan bukan sebagai entitas bebas nilai yang sekuler, melainkan sebagai instrumen profetik untuk menegakkan keadilan dan kemanusiaan. Ketika Ki Hadjar Dewantara menggagas pendidikan yang memerdekakan, sejatinya ada resonansi kuat dengan spirit tahrir (pembebasan) dalam Islam: membebaskan manusia dari belenggu kebodohan, ketundukan buta, dan degradasi moral.

Namun, realitas kontemporer menyuguhkan paradoks yang mencemaskan. Di era tekno-positivisme saat ini, ruang kelas kita kian mekanistik. Kurikulum didesain begitu padat demi mengejar kompetensi teknis, tetapi kering secara spiritual. Kita berhasil mencetak generasi yang mahir secara digital, namun rapuh secara mental; cerdas secara kognitif, namun tumpul secara emosional dan spiritual. Fenomena ini melahirkan apa yang dalam sosiologi disebut sebagai alienasi diri. Di sinilah Pendidikan Islam harus masuk bukan sebagai pelengkap penderita atau sekadar pemadam kebakaran moral, melainkan sebagai jangkar eksistensial yang mengembalikan orientasi transendental dalam setiap aktivitas ilmiah.

Tantangan terbesar para pendidik di perguruan tinggi Islam hari ini adalah meruntuhkan tembok dikotomi keilmuan yang kadung mengakar. Kita harus menyudahi pembelahan artifisial antara "ilmu agama" dan "ilmu umum". Mengajarkan sains tanpa basis etika teologis hanya akan melahirkan daya rusak yang destruktif, sebaliknya, mengajarkan doktrin agama tanpa pisau analisis kontemporer hanya akan menghasilkan dogmatisme yang gagap zaman. Integrasi ilmu harus mewujud pada lahirnya intelektual organik—ilmuwan yang sajadah salatnya bersambung dengan meja laboratoriumnya, dan riset-riset akademiknya bermuara pada kemaslahatan umat (kemaslahatan ammah).

Hardiknas tahun ini sepatutnya menjadi momentum otokritik bagi kita, para dosen dan pengambil kebijakan akademik. Sudah sejauh mana mimbar-mimbar akademik kita melahirkan ruang dialektika yang sehat? Ataukah kita justru ikut melanggengkan birokratisasi pendidikan yang membunuh daya kritis mahasiswa? Menjadi pendidik muslim berarti mengambil peran sebagai warasatul anbiya (pewaris nabi), yang tugas utamanya adalah melakukan transformasi sosial berbasis nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Hanya dengan mengembalikan khitah pendidikan pada dimensi humanisme-transendental ini, kita dapat memastikan bahwa masa depan bangsa ini tidak hanya akan dikelola oleh manusia-manusia cerdas, tetapi juga oleh manusia-manusia yang beradab.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)