MAKASSAR, HAIRANEWS — Warga Kota Makassar kini dihadapkan pada persoalan kebutuhan energi yang semakin membuat resah. Di sejumlah wilayah, antrean panjang kendaraan terlihat di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), sementara pada saat yang sama masyarakat juga kesulitan mendapatkan gas elpiji 3 kilogram atau yang akrab disebut gas melon.
Situasi ini membuat aktivitas warga ikut terganggu. Untuk mendapatkan BBM, pengendara harus rela menghabiskan waktu lebih lama di SPBU. Tak sedikit yang bahkan memilih berpindah dari satu SPBU ke SPBU lainnya karena khawatir tidak mendapatkan bahan bakar yang dibutuhkan.
Persoalan semakin terasa ketika kelangkaan LPG 3 kg ikut terjadi. Warga harus mencari gas dari warung ke warung hingga mendatangi pangkalan resmi. Di sejumlah lokasi, antrean warga bahkan sudah mengular sejak gas datang.
Laporan warga di Makassar menyebutkan, pasokan LPG 3 kg di sejumlah pangkalan terbatas. Ada pangkalan yang disebut hanya menerima sekitar 60 tabung per hari sehingga tidak semua warga yang datang bisa memperoleh gas.
Harga Ikut Dikeluhkan
Kelangkaan LPG 3 kg juga memunculkan persoalan lain, yakni harga di tingkat pengecer. Media Indonesia melaporkan harga di tingkat resmi disebut berada pada HET Rp18.500 per tabung, sementara di tingkat pengecer dapat mencapai sekitar Rp30.000. Kondisi tersebut membuat masyarakat berada dalam posisi sulit: membutuhkan gas untuk memasak, tetapi barangnya sulit ditemukan dan harganya lebih tinggi.
Bagi masyarakat kecil, persoalan ini bukan sekadar soal antrean. BBM berkaitan langsung dengan mobilitas dan aktivitas mencari nafkah, sementara LPG 3 kg merupakan kebutuhan penting untuk memasak sehari-hari.
Pemerintah dan Pertamina Turun Tangan
Kondisi tersebut mendapat perhatian pemerintah daerah. Gubernur Sulawesi Selatan membentuk satuan tugas untuk mengawasi persoalan BBM dan LPG 3 kg di tengah keresahan masyarakat.
Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi juga menyatakan telah menambah pasokan BBM dan LPG 3 kg guna memenuhi kebutuhan masyarakat. Pertamina mencatat adanya peningkatan kebutuhan solar sekitar 10–15 persen sejak Juni hingga Agustus 2026.
Di sisi lain, aparat juga ikut mendalami dugaan adanya penyalahgunaan dalam distribusi BBM maupun LPG bersubsidi. Polda Sulsel menyatakan tidak akan tinggal diam dan masih melakukan penyelidikan terkait kondisi tersebut.
Persoalan di lapangan kini menjadi ujian bagi sistem distribusi energi bersubsidi. Masyarakat tentu berharap tambahan pasokan bukan hanya mampu mengurangi antrean BBM, tetapi juga memastikan gas 3 kg kembali mudah ditemukan dengan harga yang wajar.
Bagi warga Makassar, yang dibutuhkan saat ini sederhana: BBM tersedia, gas tersedia, harga terkendali, dan distribusi tepat sasaran. Jangan sampai kebutuhan dasar masyarakat justru menjadi sumber keresahan baru.
Tulis Komentar