Harga sebagai Teknologi Sosial: Tinjauan atas Gagasan Marion Fourcade dan Lucien Karpik

$rows[judul]

Harga sebagai Teknologi Sosial:Tinjauan atas Gagasan Marion Fourcade dan Lucien Karpik

Oleh : Anshar Aminullah


Dalam salah satu gagasannya, Marion Fourcade (2011) melalui tulisannya “Price and Prejudice: On Economic Valuation and Social Values” menguraikan bagaimana harga dan prasangka bekerja dalam proses penilaian ekonomi sekaligus dalam pembentukan nilai sosial. Ia mengangkat pertanyaan mendasar: apa implikasi sosial dari penggunaan uang sebagai alat tukar? 

Dalam tradisi ekonomi politik klasik, pertanyaan ini relatif kurang mendapat perhatian. Para pemikir klasik umumnya berasumsi bahwa uang hanyalah komoditas seperti yang lain, dan bahwa pertukaran moneter pada dasarnya tidak berbeda dari barter hanya lebih praktis dan efisien.

Pandangan tersebut berbeda dengan pemikiran Karl Marx. Bagi Marx, anggapan bahwa uang sekadar alat netral adalah keliru. Uang bukan sekadar “kerudung” yang menutupi pertukaran, melainkan sebuah hubungan sosial. Pertukaran moneter tidak hanya memfasilitasi transaksi atas benda, tetapi juga membentuk dan mengubah relasi antarmanusia. 

Kita kerap menganggap nilai moneter suatu komoditas sebagai cerminan objektif dari nilai intrinsiknya. Namun, menurut Marx, anggapan ini bersifat ilusif. Nilai “sebenarnya” dari sebuah sepatu, misalnya, bukanlah harga yang tertera, melainkan jumlah kerja yang “membeku” di dalamnya dalam kondisi hubungan sosial tertentu.

Dengan demikian, bukan uang yang membuat berbagai barang menjadi dapat dibandingkan, melainkan proses abstraksi kerja yang telah menjadikannya sebanding. Uang hanya berfungsi sebagai medium pertukaran dari komoditas yang sebelumnya telah disetarakan melalui kerja abstrak. Ketika kita menggunakan uang dalam transaksi ekonomi, kita justru mengaburkan hubungan sosial yang memungkinkan proses abstraksi tersebut terjadi. 

Dalam kapitalisme, bentuk komoditas menjalankan semacam “penipuan” struktural: hubungan sosial dan intersubjektif antara manusia dalam proses produksi ditransformasikan menjadi hubungan abstrak antarobjek atau antara manusia dan objek yang dimediasi oleh uang. Dengan cara ini, uang menyembunyikan esensi sosial yang “nyata” dengan mencampuradukkan nilai ekonomiyang pada dasarnya bersifat sosial dengan harga pasar

Lebih lanjut, Marion Fourcade menguraikan bahwa kritik sosiologis terhadap ekonomi harga serta sejumlah analisis kritis dalam ilmu ekonomi selama ini berpusat pada tiga pertanyaan utama.

 Pertama, mengenai pemisahan umum antara harga pasar dan bentuk nilai lainnya, baik yang dipahami secara objektif sebagaimana dalam tradisi Marx, maupun secara subjektif sebagaimana dikemukakan oleh Boltanski dan Thévenot mengenai faktor-faktor sosiologis dan ekonomi yang menyebabkan mekanisme pasar tidak berfungsi sebagaimana diasumsikan dalam model standar, sehingga harga menjadi “lengket”, ditetapkan secara monopolistik alih-alih kompetitif, atau dibentuk melalui mekanisme yang tidak berkaitan langsung dengan ekuilibrium pasar. Ketiga, mengenai signifikansi sosial dan simbolik harga setelah harga tersebut ditetapkan.

Dalam keseluruhan analisis tersebut, harga cenderung diperlakukan sebagai entitas yang sudah ada secara nyata betapapun nilai yang dikandungnya dapat dipersoalkan atau dianggap menipu. Harga dipandang sebagai sesuatu yang “ada di luar sana” dan tinggal dipelajari. Dengan demikian, meskipun para sosiolog menolak penjelasan ekonom mengenai mekanisme yang mendorong terbentuknya harga, mereka tetap menerima naturalisasi sistem harga sebagai sesuatu yang secara ontologis sudah eksis.

Namun, bagaimana jika harga diperlakukan sebagai artefak? Bukan semata-mata sebagai artefak mekanisme pasar, melainkan sebagai artefak teknologi sesuatu yang diwujudkan melalui kerja kolektif laki-laki dan perempuan yang berupaya menjadikan harga sebagai realitas yang operasional. 

Bagaimana jika fokus analitis dialihkan dari makna sosial, simbolik, atau kultural harga menuju teknologi yang menopang sistem harga itu sendiri? Dan bagaimana jika teknologi tersebut dianalisis berdasarkan tujuan yang hendak dicapainya misalnya, apa yang ingin diwujudkan oleh sistem harga dan apa yang membuatnya sah atau dapat diterima?

Memperlakukan harga bukan sebagai benda, melainkan sebagai teknologi, membawa kita kembali pada kritik Karl Polanyi terhadap masyarakat pasar abad ke-19, yang kemudian diperluas secara signifikan oleh Michel Callon melalui gagasannya tentang keterlekatan ekonomi pasar dalam ilmu ekonomi. Bagi Callon, kekuatan ekonomi bersifat ontologis: ia memiliki kapasitas untuk “mengekonomiskan” dunia material melalui penerapan bahasa yang sah dan proliferasi agen-agen kalkulatif. 

Ekonomi tidak sekadar merepresentasikan dunia, tetapi turut memproduksi (melakukan) dunia ekonomi itu sendiri sebuah dunia di mana kalkulasi menjadi kompetensi budaya utama. Dengan demikian, ekonomi memperkuat daya performatifnya sendiri. Gerak timbal balik antara teori ekonomi dan praktik ekonomi inilah yang membentuk objek stabil yang kita sebut sebagai “pasar” atau “harga”.

Sebagai  ilustrasi empiris yang kuat mengenai daya transformasional tersebut. perkembangan pasar derivatif di Chicago Board Options Exchange, ditunjukkan bahwa keberhasilan formula penetapan harga opsi Black–Scholes tidak semata-mata karena ia secara akurat mendeskripsikan perilaku harga yang sudah ada. Sebaliknya, keberhasilan itu muncul karena para pelaku pasar mulai menggunakan formula tersebut sebagai panduan dalam menetapkan harga opsi. 

Proses ini menghasilkan ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya: setelah melalui sejumlah fluktuasi, harga pasar menjadi selaras dengan model yang digunakan. Dalam proses tersebut, baik keuangan modern maupun ekonomi keuangan modern tumbuh secara simultan dan saling memperkuat.

Ciri performatif serupa juga tampak dalam teori lelang. Dalam lelang yang kompleks, para aktor biasanya perusahaanyang memiliki sumber daya material akan berupaya mempelajari cara memainkan mekanisme lelang sebagaimana dirancang oleh para perancangnya, termasuk dengan menyewa konsultan ekonomi. 

Meskipun sebelum memasuki arena lelang mereka mungkin tidak berperilaku sesuai dengan model ekonomi formal, para penasihat ekonomi akan membimbing mereka menuju bentuk keagenan yang kalkulatif dan berorientasi pada kepentingan diri sebagaimana diasumsikan oleh model tersebut. 

Dengan demikian, teori ekonomi menjadi “benar” karena ia secara aktif membentuk perilaku para pelaku pasar. Keberhasilan spektakuler lelang spektrum radio di Amerika Serikat dan Inggris, serta lelang frasa pencarian, tidak dapat dipahami tanpa melihat mekanisme umpan balik ini, mana ekonomi sebagai disiplin pengetahuan turut membentuk dan mengarahkan proses ekonomi itu sendiri.

Jika teori ekonomi dapat bertindak secara performatif dengan membentuk praktik pasar melalui perangkat kalkulatifnya, maka pertanyaan berikutnya adalah: sejauh mana logika yang sama merembes ke dalam ranah produksi pengetahuan? Ketika harga dipahami sebagai teknologi yang mengorganisasi tindakan dan mengoordinasikan ekspektasi, kita didorong untuk melihat apakah mekanisme serupa juga bekerja dalam dunia akademik. 

Dengan kata lain, apabila model dan instrumen ekonomi mampu “menciptakan” pasar yang mereka deskripsikan, mungkinkah prinsip-prinsip tersebut juga membentuk cara kita menilai, mengukur, dan memberi nilai pada karya ilmiah?

Di titik inilah refleksi beralih dari pasar finansial dan lelang menuju pasar simbolik pengetahuan. Perhatian tidak lagi tertuju pada opsi derivatif atau desain lelang, melainkan pada artikel ilmiah, reputasi akademik, dan sistem pemeringkatan. Jika dalam pasar keuangan formula Black–Scholes berfungsi sebagai teknologi yang membentuk harga, maka dalam dunia akademik muncul pertanyaan serupa: apakah terdapat mekanisme yang berperan sebagai “teknologi harga” bagi karya ilmiah? 

Pertanyaan inilah yang kemudian menjadi titik tolak refleksi Lucien Karpik mengenai status, makna, dan kemungkinan “harga” dalam ranah ilmiah. Lucien Karpik (2011)  memulai refleksinya dengan serangkaian pertanyaan mendasar: berapakah “harga” sebuah artikel ilmiah? Apakah hanya ada satu harga, dan bagaimana harga tersebut ditentukan? Apakah harga identik dengan kualitas? Apakah ia berbeda antar-disiplin ilmu? Dapatkah harga itu dihitung sebagai keuntungan ekonomi, atau bahkan digunakan sebagai instrumen kebijakan penelitian?

Pertanyaan-pertanyaan ini menggugat asumsi bahwa karya ilmiah dapat diperlakukan layaknya komoditas biasa. Memang, buku memiliki harga yang bervariasi, tetapi harga tersebut tidak selalu sebanding dengan kualitasnya. Di pasar akademik Amerika, ilmuwan sering kali dikaitkan dengan nilai ekonomi tertentu yang sekaligus merepresentasikan nilai keseluruhan karya mereka dan intensitas persaingan antaruniversitas untuk merekrut mereka. 

Sekilas, nilai ini tampak dapat dikaitkan dengan konsep klasik tentang harga. Namun, ia tidak sepenuhnya tunduk pada hukum penawaran dan permintaan, sehingga tidak secara otomatis menghasilkan alokasi sumber daya yang rasional. Meski demikian, apakah kita dapat sepenuhnya menolak adanya kemiripan dengan konsep harga klasik? Sebagaimana petani anggur Bordeaux menantikan Panduan Parker atau koki Prancis menunggu Panduan Michelin, para peneliti di negara-negara berbahasa Inggris dengan cemas menanti publikasi skor dan peringkat tahunan yang menentukan kualitas relatif karya mereka dan secara tidak langsung, tingkat remunerasi mereka.

Dalam kerangka ini, “harga” artikel ilmiah sesungguhnya merupakan kategori yang lahir dari konfigurasi baru: interaksi antara objek evaluasi baru, metode penilaian kualitas yang baru, serta mekanisme distribusi sumber daya penelitian yang dihasilkan oleh kebijakan penelitian mutakhir, terutama di Prancis dan beberapa negara lain. Untuk memahami makna kategori ini secara tepat, perlu ditempatkan dalam konteks transformasi yang lebih luas, yakni perubahan mendasar dalam tata kelola penelitian. 

Transformasi tersebut meliputi pergeseran posisi peneliti menjadi semacam “pengusaha akademik”; masuknya kosakata dan praktik manajerial ke dalam dunia penelitian; penggunaan indikator dan peringkat yang sering kali menggeser peran tinjauan sejawat; lahirnya pola distribusi sumber daya berbasis kompetisi individual yang digeneralisasi; munculnya mekanisme kontrol organisasi baru; meningkatnya konflik dan fragmentasi dalam komunitas ilmiah; serta redefinisi relasi antara negara dan ilmu pengetahuan.

Sistem evaluasi ilmiah yang baru menjadi simpul yang mengikat seluruh elemen tersebut. Dengan variasi tertentu, sistem ini menempati posisi sentral di semakin banyak negara dan terus memperluas lingkaran pendukung, pengkritik, maupun pihak-pihak yang terdampak olehnya. Perkembangannya juga memicu lahirnya literatur yang luas dan multidisipliner mulai dari statistik, manajemen, ekonomi, sosiologi, ilmu politik, hingga hukum serta perdebatan yang bersifat ideologis dan eksistensial.

Di tengah perdebatan tersebut, kontribusi yang diajukan di sini bersifat ganda. Pertama, kajian ini menelaah kemunculan dan perkembangan reformasi penelitian di Prancis, yang memiliki sejarah teknis, sosial, dan politik yang kompleks. Kedua, kajian ini mempertanyakan interpretasi arus utama yang cenderung membaca reformasi tersebut melalui lensa ekonomi neoklasik yang menekankan rasionalitas individual, indikator dan peringkat, sistem insentif dan sanksi, serta kompetisi sebagai mekanisme utama koordinasi. 

Sebagai alternatif, diajukan pendekatan yang tidak mereduksi aktivitas dan produk ilmiah menjadi komoditas standar, melainkan memahaminya sebagai “barang singular” (singularities). Dalam kerangka ini, ekonomi singularitas yang sebelumnya dikembangkan untuk menganalisis barang dan jasa dengan karakteristik unik diterapkan untuk menjelaskan sifat khas produksi ilmiah.

Dengan demikian, analisis difokuskan pada bentuk, kondisi, dan konsekuensi konkret dari sistem evaluasi ilmiah baru di Prancis; pada konfigurasi baru kompetisi antarpeneliti; serta pada transformasi sosial-politik yang lebih luas yang memungkinkan reformasi tersebut terjadi.

Secara sistematis, bagian pertama membahas tiga perubahan utama: konstruksi metrik manual di Prancis sebagai sebuah “sejarah yang sedang berlangsung”. Pergeseran  kekuasaan yang relatif senyap antara peneliti yang terlibat dalam manajemen organisasi penelitian dan mereka yang mengelola jurnal ilmiah; serta perbandingan antara bentuk kompetisi lama dan baru dalam sistem penelitian. 

Bagian kedua dan ketiga menganalisis indikator dan peringkat sebagai perangkat evaluasi baru serta bentuk kompetisi yang menyertainya dalam mengatur relasi antarilmuwan. Bagian keempat mengkaji hubungan antara kebijakan penelitian baru, strategi negara, dan transformasi sosial-politik global yang telah membentuk dunia penelitian selama dua hingga tiga dekade terakhir.

Lebih lanjut Karpic mengungkapkan bahwa Hanya negara yang memiliki sumber daya dan kapasitas kelembagaan untuk menghasilkan setidaknya mengelola ketidaksesuaian moral, sosial, dan hukum yang dianggap mampu membebaskan peneliti dalam mengejar kepentingan individualnya serta mendistribusikan penghargaan berdasarkan kinerja. Dalam kerangka ini, setiap upaya untuk menolak atau menghentikan pengenalan bentuk persaingan baru justru dipandang sebagai reproduksi solusi ekonomi tradisional, yakni upaya membatasi kekuatan kelompok profesional agar tidak bersaing secara bebas di pasar.

Namun, untuk meningkatkan efisiensi peneliti, Belloc mengajukan satu prasyarat tambahan yang bersifat problematik, yakni “pengenalan kompetisi”. Pernyataan ini tidak berarti bahwa sebelumnya tidak ada persaingan di antara para peneliti. Sebaliknya, yang dimaksud adalah pembentukan bentuk persaingan baru yang secara eksplisit dikaitkan dengan persoalan kualitas, dan karenanya menuntut keberadaan otoritas pengatur serta perangkat evaluasi yang terstandar. 

Realitas baru ini bertumpu pada tiga keputusan mendasar: (1) delimitasi konkret atas produk penelitian yakni artikel ilmiah yang dijadikan tolok ukur umum; (2) penerapan kriteria kualitas ilmiah yang tidak lagi secara langsung menilai karya yang dievaluasi, melainkan medium evaluasinya, yaitu jurnal; dan (3) pemeringkatan unidimensional terhadap artikel yang dipublikasikan peneliti. Dengan demikian, bentuk persaingan baru tersebut berpusat pada standardisasi dan pengukuran kualitas ilmiah.

Secara paradoksal, implikasi dari skema ini terhadap relasi antara homo economicus, sistem penghargaan, otoritas regulatif, instrumen pengukuran, dan efisiensi tidak lain merupakan perluasan logika pasar ke dalam ranah produksi pengetahuan. Kombinasi antara kompetisi dan sistem evaluasi yang baru tersebut bersifat pragmatis semata dan tidak dibangun di atas kerangka teoretis yang memadai. Lebih jauh lagi, penalaran ini secara implisit mensyaratkan penyetaraan antara kegiatan dan produk ilmiah dengan kegiatan dan produk ekonomi. Asumsi inilah yang ditolak dalam kajian ini.

Dengan membaca Fourcade dan Karpik secara beriringan, kita melihat bagaimana logika harga tidak hanya bekerja di pasar komoditas, tetapi juga meresap ke dalam ruang-ruang yang sebelumnya dianggap otonom dari kalkulasi ekonomi, termasuk dunia ilmu pengetahuan. Fourcade menunjukkan bahwa harga bukan sekadar refleksi nilai, melainkan perangkat sosial yang sarat prasangka, kekuasaan, dan teknologi penilaian. Karpik, pada gilirannya, memperlihatkan bahwa ketika logika tersebut diterapkan pada produksi ilmiah, ia tidak pernah sepenuhnya mampu menangkap kualitas yang bersifat singular dan tak tereduksi. 

Artikel ilmiah, reputasi akademik, dan karya intelektual tidak tunduk sepenuhnya pada hukum penawaran dan permintaan, karena nilainya dibentuk oleh rezim evaluasi, otoritas simbolik, dan konfigurasi kelembagaan tertentu. Dengan demikian, “harga” dalam dunia akademik bukanlah fakta alamiah, melainkan hasil konstruksi sosial yang diproduksi melalui perangkat metrik, peringkat, dan kebijakan penelitian.

Pada akhirnya, refleksi ini mengarah pada satu pertanyaan mendasar tentang batas perluasan rasionalitas pasar: sampai sejauh mana teknologi harga dapat atau layak mengorganisasi seluruh dimensi kehidupan sosial? Jika harga adalah artefak performatif yang membentuk realitas ekonomi, maka penerapannya dalam dunia pengetahuan berisiko menggeser orientasi ilmiah dari pencarian kebenaran menuju optimasi skor dan posisi dalam hierarki peringkat. 

Kritik terhadap naturalisasi harga baik dalam ekonomi maupun dalam sistem evaluasi ilmiah membuka ruang bagi pembacaan yang lebih kritis atas relasi antara nilai, kualitas, dan kekuasaan. Dengan menolak penyetaraan sederhana antara produk ilmiah dan komoditas pasar, kajian ini menegaskan kembali pentingnya mempertahankan otonomi epistemik ilmu pengetahuan dari reduksi semata-mata pada logika kalkulasi ekonomi.

Sumber Referensi :

Beckert, J., & Aspers, P. (Eds.). (2011). The worth of goods: Valuation and pricing in the economy. Oxford University Press

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)